Selasa, 23 Juli 2013

Warren Buffet-1

1. Membeli saham sama dengan membeli bisnis
Jika sebuah bisnis berkinerja bagus, harga sahamnya akan mengikuti.;
Bagaimana mengetahui bisnis yang bagus? Pertama-tama, Anda harus mengerjakan PR, yaitu riset fundamental perusahaan tersebut. Sebab, bagi Buffett, syarat mutlak berinvestasi adalah mengerti bisnisnya dulu. Ia berulang kali menolak berinvestasi di berbagai saham teknologi murah karena mengaku tak kenal bisnisnya. “Risiko datang ketika Anda tidak tahu apa yang Anda lakukan,” tuturnya.
Karena itu, Buffett juga menyarankan untuk memastikan kekuatan manajemen perusahaan itu. Menurut buku ‘The Warren Buffett Way', ia punya tiga pertanyaan menyangkut manajemen sebuah perusahaan. Apakah mereka rasional? Apakah mereka mengakui kesalahan? Apakah mereka bisa menahan tuntutan institusi? Buffett tak suka manajemen yang hanya mengikuti arus dan mengkopi kompetitor.


2. Beli perusahaan yang menguntungkan
Buffett lebih suka berinvestasi pada perusahaan yang membukukan keuntungan dengan konsisten. Artinya, dalam jangka panjang misalnya 10 tahun, perusahaan itu konsisten meraup keuntungan.
Ia pun mengukur tingkat keuntungan perusahaan misalnya dengan melihat return on equity (ROE), return on invested capital (ROIC), dan margin laba perusahaan, lalu membandingkannya dengan perusahaan kompetitor atau industri.
Tapi hati-hati, kadang perusahaan dengan ROE tinggi memiliki utang yang besar pula. Buffett sangat menghindari perusahaan macam ini. Ia pernah bilang, “Jika Anda berada di kapal yang bocor kronis, energi untuk mengganti kapal bakal lebih produktif ketimbang energi untuk menambal kebocoran.”
Catatan:
ROE = laba bersih/ekuitas
Margin laba = laba bersih/penjualan bersih
ROIC = (laba bersih-dividen)/total modal


3. Beli saham bagus di harga murah
Harga adalah apa yang Anda bayarkan, nilai adalah apa yang Anda dapatkan.
Jadi, belilah selalu saham yang harganya lebih murah daripada nilai sebenarnya. Ini prinsip utama Buffett yang ia pelajari dari guru favoritnya, Benjamin Graham. Caranya adalah cermat memperhatikan fluktuasi pasar dan memanfaatkannya. Ketika pasar serakah, Buffett cenderung menahan diri. Tapi sebaliknya, begitu pasar takut, ia mulai menebar jala berburu saham bagus tapi murah. Strategi kontrarian ini mudah diucapkan tapi pada kenyataannya sulit diterapkan. Sebab, lazim terjadi emosi dan kepanikan akan menyergap investor di tengah situasi buruk.


4.Berinvestasi jangka panjang
"Belilah hanya sesuatu yang Anda akan benar-benar senang memegangnya jika pasar tutup selama 10 tahun.
Ketika membeli sebuah saham, Buffett berpatokan akan menyimpannya dalam jangka panjang bahkan seumur hidupnya. Ia menyimpan sejumlah saham yang tak pernah ia jual sampai sekarang seperti Coca-Cola, GEICO, dan Washington Post.

5. Economic moat
Buffett menemukan istilah baru ini, yang secara harafiah berarti parit perlindungan ekonomi. Tapi yang dimaksud Buffett adalah perusahaan yang punya keunggulan kompetitif.  Perusahaan bertipe economic moat dapat melindungi bisnisnya dari kompetitor karena ia punya kelebihan tersendiri.
Kelebihan ini bisa berupa merek yang kuat, paten, atau posisi geografis. Memakai prinsip ini, Buffett membeli McDonalds, Coca Cola, dan P&G. 
Di awal-awal periode ia berinvestasi, Warren Buffett berpatokan pada strategi value investing yang diajarkan oleh Benjamin Graham. Namun belakangan, terutama sejak tahun 1990, Buffett tidak murni lagi menjalankannya.
Sang investor jenius mengakui, “Saya 85% Benjamin Graham, dan 15%-nya lagi Philip Fisher.”
Menurut buku ‘The Warren Buffett Way,” Buffett belajar mengenai margin of safety dari Graham. Yaitu, menggunakan acuan angka-angka kuantitatif untuk membeli saham perusahaan yang dijual lebih murah daripada modal kerja bersihnya.
Dari Fisher, Buffett menambahkan efek manajemen terhadap nilai bisnis perusahaan. Selain itu juga bahwa diversifikasi akan menambah risiko bukannya mengurangi. Sebab, lebih sulit untuk benar-benar mengamati semua telur yang berada di banyak keranjang.
Fisher juga menulari Buffett strategi growth investing. Investor beraliran growth investing biasanya mencari saham dengan menggunakan kriteria pertumbuhan EPS (earnings per share) atau pertumbuhan penjualan. Pertumbuhan EPS sebesar minimal 10% per tahun selama 5 tahun terakhir bisa dijadikan kriteria memilih growth stock.
Umumnya growth investor kurang peduli terhadap kriteria PER. Mereka tetap nekad membeli saham yang memiliki PER jauh di atas rata-rata PER sektor. Bagi mereka, jika laba bersih saham bertumbuh pesat, maka ini bisa menjustifikasi harga mahal yang dibayar (PER tinggi).
Pada Tabel disajikan data pertumbuhan EPS per tahun untuk 25 saham unggulan, sebagian besar masuk dalam IDX 30 Index yang baru saja diluncurkan Bursa Efek Indonesia. Terlihat bahwa pertumbuhan EPS per tahun selama 5 tahun terakhir cukup tinggi (di atas 10% per tahun) untuk semua saham kecuali TLKM dan INCO.
Namun jika menggunakan data setahun terakhir, tidak semua saham unggulan bertumbuh di atas 10%, misalnya SMGR, TLKM, EXCL, INTP, INDF, AALI, PGAS, INCO, BUMI, CPIN. Investor harus berhati-hati untuk saham yang melambat pertumbuhannya, bahkan negatif.
Investor beraliran value investing berusaha mencari saham berfundamental bagus dengan harga murah. Analoginya, membeli alat bermain ski di musim panas. Kriteria utama memilih value stock adalah PER (Price Earnings Ratio). Cari saham dengan harga yang relatif rendah jika dibandingkan dengan EPS-nya. PER sebesar 10 kali artinya, jika EPS perusahaan tidak bertumbuh maka perlu 10 tahun untuk mengembalikan dana pembelian saham tersebut.
Saat terjadi market crash tahun 2008, banyak saham unggulan yang PER-nya anjlok. ASII, misalnya, hanya memiliki PER kurang dari 5 kali. Saat ini PER ASII sudah menjadi 3 kali lipat. Jika investor membeli saham ASII atau saham unggulan lain saat itu, niscaya keuntungan yang diperoleh amat memuaskan.
Pada Tabel terlihat bahwa lebih dari separuh saham unggulan memiliki PER di atas 15 kali. PER sebesar 15 kali sering dipakai sebagai patokan untuk menentukan apakah IHSG sudah overvalued atau belum. Namun perbandingan dengan PER saham lain dalam sektor yang sama harus dilihat juga.
Mengawinkan value dan growth investing
Buffett sendiri ternyata mengawinkan kedua strategi ini. Dengan bahasa sederhana, ia membeli saham yang bertumbuh cepat pada harga yang masih  murah.
Investor lain yang memadukan value dan growth investing adalah Peter Lynch yang mengelola Fidelity. Ia menyebutnya sebagai konsep Growth at a Reasonable Price (GARP).
GARP menggunakan indikator  PEG (Price Earnings Growth) Ratio. Formula untuk menghitung PEG Ratio adalah PER dibagi dengan angka persentase ekspektasi pertumbuhan EPS per tahun. Saham yang bagus menurut Lynch adalah yang memiliki PEG Ratio di bawah 1. Artinya, ekspektasi pertumbuhan EPS harus lebih tinggi daripada PER.
Ekspektasi EPS bisa dihitung dari data pertumbuhan EPS tahunan selama 5 hingga 10 tahun terakhir. Sebagai tambahan, pertumbuhan EPS setahun terakhir bisa dijadikan filter final untuk mengkonfirmasi keputusan membeli. Data tentang PER dan EPS bisa diperoleh dari berbagai sumber seperti www.reuters.com, www.idx.co.id.
Misalnya, pada tabel, saham ASII memiliki PER 15,23 kali dan pertumbuhan EPS 36,8% per tahun (dari data 5 tahun terakhir). PEG Ratio adalah 0,41 yang berarti bagus. Namun jika menggunakan pertumbuhan EPS setahun terakhir (hanya 23,8%), PEG Ratio naik menjadi 0,68. Investor perlu menganalisis mengapa pertumbuhan EPS tahun terakhir melambat? Jika pertumbuhan yang melambat ini diyakini akan berlanjut, sebaiknya investor berhati-hati karena PEG Ratio sudah berada di ambang batas.
Di Tabel terlihat pertumbuhan EPS saham BBRI adalah 28,96% dan saham BBCA adalah 20,83%. Namun BBCA memiliki PER lebih tinggi dari BBRI. Maka PEG Ratio BBRI (0,39) lebih rendah dari BBCA (0,81), yang berarti saham BBRI lebih bagus. Ini juga dikonfirmasi oleh pertumbuhan EPS tahun terakhir saham BBRI yang di atas BBCA. PEG Ratio menjadi 0,33 melawan 0,61.
Dengan GARP kita punya acuan sederhana untuk mencari cuan. Cari saham yang tumbuh namun dengan harga murah. Selamat berburu.
Saham
PER
EPS growth (5year)
EPS growth (1year)
PEG Ratio (5year)
PEG Ratio (1year)
ASII
15.23
36.8
23.8
0.41
0.64
GGRM
21.32
37.17
18.03
0.57
1.18
BBRI
11.2
28.96
33.52
0.39
0.33
KLBF
22.79
18.87
15.22
1.21
1.50
UNTR
12.31
40.73
48.01
0.30
0.26
UNVR
44.06
19.32
22.92
2.28
1.92
SMGR
18.7
24.82
8.04
0.75
2.33
JSMR
26.21
23.78
12.23
1.10
2.14
TLKM
16.06
0.45
-4.58
35.69
-3.51
EXCL
21.24
29.31
-2.2
0.72
-9.65
ITMG
7.48
88.02
167.51
0.08
0.04
BMRI
14.64
35.51
22.59
0.41
0.65
BBCA
16.78
20.83
27.6
0.81
0.61
INTP
18.79
43.42
11.53
0.43
1.63
BSDE
19.51
46.83
39.9
0.42
0.49
INDF
14.88
43.89
4.21
0.34
3.53
AALI
16.35
25.03
19.28
0.65
0.85
LSIP
12.03
41.2
64.66
0.29
0.19
SMCB
18.75
43.3
28.34
0.43
0.66
CMNP
10.03
24.05
19.71
0.42
0.51
PGAS
13.03
25.09
-1.4
0.52
-9.31
INCO
24.84
-8.25
-23.69
-3.01
-1.05
BDMN
14.4
14.26
14.17
1.01
1.02
CPIN
17.32
67.69
6.7
0.26
2.59
PTBA
11.37
44.76
53.61
0.25
0.21
JAKARTA. Warren Buffett meraih status orang terkaya di muka bumi tahun 2008 silam berkat kepiawaiannya berinvestasi. Strategi investasinya pun tak rumit-rumit amat. Kalau diperhatikan, Buffett hanya menerapkan analisis fundamental sederhana. Namun, ia berhasil karena ia sangat tenang, sabar, dan konsisten dalam menjalankannya.
Akan tetapi, kritik terhadap strategi ini adalah tak semua investor punya kesabaran, waktu, dan modal sebesar Buffett. Lebih-lebih investor pemula.
Di Indonesia, belakangan ini, investor ritel pemula lebih banyak menggunakan analisis teknikal atau melakukan trading jangka pendek. Terlebih saat ini berkembang teknologi online trading yang memungkinkan pelaku pasar menjalankan transaksi dengan cepat dan real time. 
“Saat ini 80% memang memakai analisis teknikal (TA) dan hanya sekitar 20% investor yang setia memakai analisis fundamental (FA),” tutur Budi Frensidi, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia sekaligus praktisi saham.
Menurutnya, kedua analisis ini sama-sama relevan. TA lebih untuk menentukan kapan saat yang baik untuk masuk, sementara FA untuk memilih saham. “Menggunakan TA orang bisa mencari tahu market timing, sehingga tidak takut membeli dengan harga mahal, kalau nanti bisa menjual dengan harga lebih mahal lagi,” jelasnya. Sayangnya, investor pemula lebih sering kejeblos karena salah memperkirakan.
Meski begitu, lebih banyak pihak yang senang pada penggunaan TA.  Sebab, TA akan mendorong investor melakukan trading  sehingga tentunya bursa semakin ramai dengan transaksi. “Semuanya senang, trader, BEI, dan bertransaksi. Kalau banyak yang pakai FA dan bermain jangka panjang, pasar malah akan jadi sepi,” imbuhnya.
Pasalnya, kata dia, kelemahan FA adalah tidak memperhatikan sentimen pasar di jangka pendek. Bisa jadi, harga saham menyimpang dari nilai sebenarnya bahkan selama satu dua tahun, padahal investor sudah hendak menggunakan uangnya. Belum tentu investor ritel pemula kuat iman dan kuat modal mengalami yang seperti ini.
Tips bagi investor pemula
Ia menyarankan, investor pemula yang memang serius hendak berinvestasi bukan trading, menyisihkan dananya yang tidak terpakai minimal selama 3-5 tahun. “FA itu pasif. Abaikan faktor sentimen, jangan terus-terusan memantau harga saham setiap saat. Sebab dari situ kepanikan akan muncul. Lebih baik investor mengecek secara bulanan atau tiga bulanan ketika laporan keuangan terbit,” paparnya.
Lukas Setia Atmaja , pengajar investasi dari Universitas Prasetya Mulya, mengatakan bahwa investor ritel pun sangat bisa menerapkan strategi ala Buffett dalam berinvestasi saham. “Cari saham yang bagus dan murah lalu hold, persis seperti beli tanah atau properti,” tuturnya. Dengan cara ini, hidup Anda akan lebih tenang ketimbang berdebar-debar menantikan liukan harga saham setiap hari.
Ia mencontohkan, investor dengan dana Rp 25 juta, sudah bisa membeli saham-saham blue chip yang harganya tidak terlalu tinggi. Dengan modal terbatas, investor sudah bisa membentuk portofolio sendiri. Namun, ia menyarankan jangan ambil terlalu banyak saham.
Sepakat dengan Lukas, investor saham kawakan Lo Khenghong menambahkan, peganglah satu dua atau sedikit saham saja yang sudah Anda kenal dengan baik. “Diversifikasi itu hanya untuk orang yang tidak tahu,” tuturnya.
Soal ini, Lukas memberikan metafora yang menarik. Kata dia, membeli saham untuk jangka panjang itu ibarat seorang fotografer yang datang memotret ke Bromo. Berbeda dengan turis yang begitu datang langsung jeprat-jepret sembarangan, fotografer akan melihat situasi untuk mencari tempat yang menarik.
Setelah menemukan lokasi yang pas, ia memasang tripod di sana, lalu sabar menunggu objek incarannya lewat. Nah, begitu si objek lewat, ia langsung membidik. Satu kali saja. “Dan foto itu akan menjadi sebuah winning picture,” ujarnya. Moral cerita, memilih saham sejatinya mirip dengan itu.
Kapan menjual?  
Ya, ini pertanyaan paling sering ditanyakan.
Jawabannya yang nomor satu, tentu kalau Anda butuh duit. Nomor dua, apabila asumsi Anda ketika beli sudah terpenuhi. “Investasi juga kayak orang menikah, kalau dia selingkuh kita boleh lepas,” kata Lukas. Misalkan saja, perusahaan itu sudah tidak inovatif lagi, melorot dari posisi market leader, dan kinerjanya mulai menurun.
Karenanya, meskipun Anda berencana menahan saham itu untuk jangka panjang, Anda tetap harus mengikuti perkembangannya. Setidaknya lakukanlah evaluasi setiap kali laporan keuangan perusahan itu terbit.
Jangan pula menjual karena terpengaruh pasar tapi jagalah kesabaran Anda. Ada teladan yang menarik dari Buffett menyangkut konsistensi dan kesabaran. Pada suatu ketika di tahun 2009, Warren Buffett mengagetkan pasar. Tiada angin tiada hujan, ia mendadak membeli saham BYD yaitu sebuah perusahaan mobil listrik dari China. Padahal Buffett terkenal sangat hati-hati dan tak pernah tergoda saham teknologi.
Alhasil, Amerika geger. Banyak investor kemudian yang mengekor Buffett membeli saham BYD. Sudah bisa ditebak, harga saham BYD melesat. Hebatnya, Buffett tetap memegang dan tak menjual selembar pun saham BYD . Padahal, jika saja dia mau menjual, ia bakal memperoleh keuntungan berlipat-lipat.
Apakah Anda bisa sesabar dan sekonsisten Buffett? Setidaknya Anda bisa belajar.
Mari mengenal sang investor jenius.  Ada banyak fakta unik tentang orang terkaya nomor tiga dunia ini, namun KONTAN pilihkan sembilan hal yang paling menarik dari kehidupannya:
1 . Buffet tinggal di rumah yang sama selama setengah abad
Rumah yang terletak di Omaha itu ia beli sebagai tempat tinggalnya bersama Susie. Terdiri dari 10 kamar, lima kamar tidur, dengan luas kurang dari 0,75 ekar dekat dengan kantornya. Tahun lalu, rumah itu ditaksir bernilai US$ 727.600.

2.  Ia mewariskan 85% kekayaannya untuk amal, bukan untuk anak-anaknya
Pada Juni 2006, Buffett mengumumkan rencananya untuk menyumbang 85% kekayaannya untuk amal. Sebagian besar dana akan mengalir ke Bill & Melinda Gates Foundation dan sisanya ke yayasan-yayasan sosial milik keluarganya.
“Tak ada alasan kenapa generasi mendatang Buffett kecil harus memimpin masyarakat hanya karena mereka lahir dari rahim yang tepat. Di mana letak keadilannya?
Pada Juni 2012, Buffett bersama Gates menggelar kampanye bernama The Giving Pledge. Mereka membujuk orang-orang kaya Amerika Serikat untuk mendonasikan sedikitnya separuh kekayaan mereka untuk kegiatan amal, setelah mereka mati atau sepanjang usia mereka. Sebanyak 40 orang kaya telah meneken surat yang menyatakan akan melakukan komitmen itu.

3. Buffett punya kisah cinta unik
Ia menikah dengan istri pertamanya, Susan,  selama 52 tahun. Mereka tetap menikah dari tahun 1952 sampai dengan Susan meninggal akibat kanker mulut di tahun 2004. Pernikahannya sempat tidak berjalan mulus karena Buffett sangat sibuk dan tak punya banyak waktu mengurusi rumah tangganya.
Pada tahun 1970-an, Buffett terlibat hubungan asmara dengan Katherine Graham, pemegang saham pengendali koran The Washington Post. Walau Susan merasa dipermalukan, ia akhirnya menyurati Graham dan mengizinkannya mengencani Buffett.
Tahun 1978, ketika anak-anak mereka sudah besar, Susan pindah ke San Fransisco dan menetap di sana sendirian. Karena ia tahu Buffett butuh seseorang untuk mengurusnya, Susan mengenalkannya pada seorang pramusaji restoran di Omaha bernama Astrid Menks. Menks tinggal bersama Buffett selama 27 tahun sampai akhirnya mereka menikah di 2004 setelah Susan meninggal.
Meskipun mereka hidup terpisah, Buffett tak pernah menceraikan Susan. Mereka juga sering berbicara lewat telepon dan kadang menghadiri acara-acara bersama. Buffett kelak mengakui bahwa membiarkan Susie pergi adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Buffett berada di sisi Susan ketika ia meninggal.

4. Buffett  punya ikatan seumur hidup dengan Washington Post.
Buffett memulainya sejak SMA. Bekerja sebagai loper koran, ia mengantarkan hampir 500.000 kopi surat kabar Washington Post di Omaha.
Ketika ia makin dewasa, kekaguman dan kesetiaannya pada surat kabar itu makin tumbuh. Pada usia 46 tahun, ia malah berhubungan asmara dengan Katherine Graham, pengelola The Post yang berusia 59 tahun. Graham memperkenalkan Buffett ke pergaulan New York, sementara Buffett mengajari Graham carra berbisnis.
Pada tahun 1974, Buffett masuk dalam Dewan Direktur Washington Post dan terus di sana hingga 37 tahun kemudian. Meski ia baru-baru ini mundur, cinta Buffett pada produk, perusahaan, dan manajemen koran tersebut tak diragukan lagi. Berkshire Hathaway merupakan pemegang saham  terbesar Washington Post.

5.  Buffett baru-baru ini mempekerjakan sesorang yang rela membayar jutaan dollar – sampai dua kali – hanya untuk makan siang bersamanya
Apakah Anda berpikir US$ 5,25 juta terlalu mahal hanya untuk makan siang dengan sang miliuner?
Tidak bagi Ted Weschler, managing partner hedge fund  Peninsula Capital Advisors. Ia sampai dua kali memenangkan lelang amal yang diselenggarakn eBay dan membayar uang itu demi bertemu Buffett.
Ternyata upaya tersebut mendaratkan Weschler ke impiannya bekerja di Berkshire Hathaway. Buffett mengumumkan pada September 2011 bahwa Weschler bergabung dengan perusahaannya untuk mengelola investasi. Tak hanya itu, Weshcler pun menjadi salah satu orang kepercayaan Buffett.

6.   Buffett bermain bridge online setidaknya empat kali seminggu
Buffett terobesi pada bridge. Ia ikut bertanding pada turnamen bridge online selama bertahun-tahun bersama rekannya Bill Gates. Buffett memakai nama T-Bone dan Gate menyamar dengan nama Chalengr.
Bahkan, rekan bridge Buffett sekaligus sahabatnya, Sharon Osberg, adalah orang yang mengajarinya menggunakan komputer (pekerjaan yang bahkan Bill Gates pun tak sanggup). Osberg, pemenang turnamen bridge dunia dan mantan eksekutif Wells Fargo, telah menemani Buffett bermain bridge selama 20 tahun,
Buffett, Gates dan Osberg mendanai program pelatihan bridge di SMP-SMP. Buffett meyakini, bridge dapat membantu mengajari anak matematika, berpikir logis, dan bagaimana bekerja sama dengan orang lain.

7. Buffett sangat loyal pada merek tertentu
Saking loyalnya, di kehidupan sehari-harinya pun ia tak lepas dari produk-produk itu. Ia bisa minum lima kaleng Cherry Coke setiap hari.

8. Buffett tidak menyukai produk derivatif dan emas
Buffett dan juga partnernya Charlie Munger tak pernah berinvestasi dalam emas. Mereka sepakat emas adalah aset nonproduktif, sedangkan Berkshire lebih memilih berinvestasi pada aset produktif yang bisa menghasilkan sesuatu. Munger bahkan pernah berkata, “Orang beradab tidak membeli emas.”
Buffett sendiri berkata begini,
“Ketika kami mengambil alih Berkshire, harga sahamnya US$ 15 dan emas waktu itu dijual US$ 20 per ons. Sekarang emas US$ 1.600 dan Berkshire US$ 120.000. Atau Anda bisa mengambil contoh lebih luas. Jika Anda membeli emas sekarang dan Anda menyimpannya sampai 100 tahun ke depan, Anda bisa menatapnya dan menimangnya setiap hari, dan 100 tahun dari sekarang emas itu akan tetap 1 ons. Ia tak bisa melakukan sesuatu untuk Anda dalam selang waktu itu. Anda membeli 100 ekar lahan pertanian, lahan itu bakal mengasilkan setiap tahun. Anda lalu bisa membeli lebih banyak lahan, dan 100 tahun lagi Anda tetap punya 100 ekar lahan. Anda bisa membeli indeks Dow Jones seharga US$ 66 di awal tahun 1900 ketika harga emas US$ 20. Di akhir abad ini, Dow Jones sudah 11.400 dan Anda juga masih mendapat dividen selama 100 tahun. Jadi aset produktif yang baik akan membunuh aset nonproduktif.”
Selain itu, pada  suratnya tahun 2002, Warren Buffet menyebut derivatif sebagai senjata penghancur finansial alias Weapon of Financial Destruction. Pada kuartal kedua 2012, ia merugi US$ 700 juta pada produk derivatif saham.

9. Buffett menjauhi saham teknologi
Buffett jelas bukan seorang tech geek. Di tengah booming saham internet tahun 1998, ia berkata kepada pemegang saham Berkshire, “Teknologi itu hanya sesuatu yang tak kami mengerti, jadi kami tidak berinvestasi di sana.”
Tapi ada satu hal yang bisa membujuk Buffett melirik saham teknologi. Ini juga yang mendorongnya membeli saham IBM tahun lalu dan menjadi saham teknologi pertama dalam portofolionya. Apakah Buffett sudah keluar dari zona nyamannya? Tidak juga,  tapi semata karena saham itu murah. “IBM cocok dengan semua prinsip saya, saham yang ingin kami miliki selamanya,”
10. Buffett ahli bermain ukulele
Buffett sangat menguasai alat musik berbentuk menyerupai gitar mini itu. Ia sering didaulat tampil di sejumlah acara. Tak percaya? Saksikan duetnya bersama rocker Jon Bon Jovi dalam video di bawah ini:
NEW YORK. Kepada sebuah wawancara dengan CNBC, Warren Buffett mengungkapkan bahwa Berkshire Hathaway adalah saham paling bodoh yang pernah dibelinya. Ia bahkan menyebut pembelian perusahaan tekstil di tahun 1964 itu sebuah blunder bernilai US$ 200 miliar. Pembelian itu semata timbul dari keinginannya untuk membalas dendam kepada CEO Berkshire yang mencoba mengelabuinya.
Kata Buffett, perusahaan holding-nya seharusnya kini bisa bernilai dua kali lipat dari nilainya sekarang, yaitu sekitar US$ 200 miliar, jika saja dulu ia membeli perusahaan asuransi yang bagus bukannya perusahaan tekstil yang sekarat.
Alkisah, tahun 1962, Buffett masih menjalankan sebuah kemitraan kecil untuk mengelola dana kelolaan nasabah sekitar US$ 7 juta. Kemitraan ini kalau di masa sekarang disebut hedge fund.
Lalu tampaklah olehnya sebuah saham yang murah berdasarkan modal kerja dan lain sebagainya. Masalahnya, itu adalah saham sebuah perusahaan tekstil yang bisnisnya sedang menurun selama bertahun-tahun. "Aslinya adalah perusahaan besar, dan mereka menutup satu pabrik setelah yang lain. Setiap kali mereka menutup pabrik, mereka akan menggunakan dananya untuk membeli kembali saham mereka," kisah Buffett.
Jadi, ketika Berkshire hendak menutup satu pabrik lagi, Buffett segera membeli saham tersebut. Lalu ia menjualnya lagi ke perusahaan itu dan mengantongi untung lumayan.
Buffett mulai mengakumulasi saham itu sampai tahun 1964 ia sudah memiliki cukup banyak saham Berkshire. Ketika ia mengunjungi manajemen, CEO Berkshire Seabury Stanton berkata bahwa Berkshire akan menjual sejumlah pabrik lagi. Lantas uangnya akan digunakan untuk membeli saham dalam tender offer yang akan diadakan perusahaan.
Ia menatap Buffett dan bertanya, "Pada harga berapa Anda akan menjual saham Anda?" Buffett menjawab, "11,50." Stanton berkata, "Apakah Anda berjanji akan menjualnya pada 11,50?" Buffett berkata, "Tuan Stanton, Anda bisa memegang kata-kata saya bahwa jika Anda melakukan tender offer dalam waktu dekat, saya akan menjual saham saya di 11,50."
Sebulan kemudian, Buffett menerima sebuah surat. Pemberitahuan tender offer dari Berkshire Hathaway dengan harga...US$ 11,888. "Jika surat itu menyatakan US$ 11,50 saya sudah pasti menjual saham saya. Tapi ini membuat saya jengkel. Jadi saya pergi dan mulai memborong saham itu dan menjadi pengendali perusahaan, dan memecat Stanton," tuturnya sambil tertawa.
Cerita belum usai. Pada tahun 1967, Buffett melihat sebuah perusahaan asuransi bagus lalu ia membelinya sebagai aset Berkshire. "Saya seharusnya membelinya untuk sebuah entitas perusahaan baru," sesalnya. Sebab, Berkshire masih diberatkan oleh aset-aset tekstil yang busuk.
Buffett berusaha membangun bisnis demi bisnis di atas Berkshire. Namun, aset tekstil yang mati suri itu selalu menjadi hambatan. "Dan selama 20 tahun, saya meperjuangkan bisnis tekstil sebelum akhirnya saya menyerah," akunya.
Ia mengatakan, daripada mengucurkan semua uang ke dalam bisnis tekstil, semestinya ia mulai dengan sebuah perusahaan investasi. Jika saja itu yang terjadi, kata dia, Berkshire bisa bernilai dua kali lipat nilainya sekarang.
Meskipun begitu, investasi terbodoh Buffett pun berbuah manis. Buffett pertama kali membeli Berkshire seharga US$ 7,6 per saham. Sekarang harga saham Berkshire kelas A sudah mencapai US$ 128.475. Silakan hitung sendiri berapa keuntungan Buffett.
1. Membeli saham sama dengan membeli bisnis
Jika sebuah bisnis berkinerja bagus, harga sahamnya akan mengikuti.;
Bagaimana mengetahui bisnis yang bagus? Pertama-tama, Anda harus mengerjakan PR, yaitu riset fundamental perusahaan tersebut. Sebab, bagi Buffett, syarat mutlak berinvestasi adalah mengerti bisnisnya dulu. Ia berulang kali menolak berinvestasi di berbagai saham teknologi murah karena mengaku tak kenal bisnisnya. “Risiko datang ketika Anda tidak tahu apa yang Anda lakukan,” tuturnya.
Karena itu, Buffett juga menyarankan untuk memastikan kekuatan manajemen perusahaan itu. Menurut buku ‘The Warren Buffett Way', ia punya tiga pertanyaan menyangkut manajemen sebuah perusahaan. Apakah mereka rasional? Apakah mereka mengakui kesalahan? Apakah mereka bisa menahan tuntutan institusi? Buffett tak suka manajemen yang hanya mengikuti arus dan mengkopi kompetitor.


2. Beli perusahaan yang menguntungkan
Buffett lebih suka berinvestasi pada perusahaan yang membukukan keuntungan dengan konsisten. Artinya, dalam jangka panjang misalnya 10 tahun, perusahaan itu konsisten meraup keuntungan.
Ia pun mengukur tingkat keuntungan perusahaan misalnya dengan melihat return on equity (ROE), return on invested capital (ROIC), dan margin laba perusahaan, lalu membandingkannya dengan perusahaan kompetitor atau industri.
Tapi hati-hati, kadang perusahaan dengan ROE tinggi memiliki utang yang besar pula. Buffett sangat menghindari perusahaan macam ini. Ia pernah bilang, “Jika Anda berada di kapal yang bocor kronis, energi untuk mengganti kapal bakal lebih produktif ketimbang energi untuk menambal kebocoran.”
Catatan:
ROE = laba bersih/ekuitas
Margin laba = laba bersih/penjualan bersih
ROIC = (laba bersih-dividen)/total modal


3. Beli saham bagus di harga murah
Harga adalah apa yang Anda bayarkan, nilai adalah apa yang Anda dapatkan.
Jadi, belilah selalu saham yang harganya lebih murah daripada nilai sebenarnya. Ini prinsip utama Buffett yang ia pelajari dari guru favoritnya, Benjamin Graham. Caranya adalah cermat memperhatikan fluktuasi pasar dan memanfaatkannya. Ketika pasar serakah, Buffett cenderung menahan diri. Tapi sebaliknya, begitu pasar takut, ia mulai menebar jala berburu saham bagus tapi murah. Strategi kontrarian ini mudah diucapkan tapi pada kenyataannya sulit diterapkan. Sebab, lazim terjadi emosi dan kepanikan akan menyergap investor di tengah situasi buruk.


4.Berinvestasi jangka panjang
"Belilah hanya sesuatu yang Anda akan benar-benar senang memegangnya jika pasar tutup selama 10 tahun.
Ketika membeli sebuah saham, Buffett berpatokan akan menyimpannya dalam jangka panjang bahkan seumur hidupnya. Ia menyimpan sejumlah saham yang tak pernah ia jual sampai sekarang seperti Coca-Cola, GEICO, dan Washington Post.

5. Economic moat
Buffett menemukan istilah baru ini, yang secara harafiah berarti parit perlindungan ekonomi. Tapi yang dimaksud Buffett adalah perusahaan yang punya keunggulan kompetitif.  Perusahaan bertipe economic moat dapat melindungi bisnisnya dari kompetitor karena ia punya kelebihan tersendiri.
Kelebihan ini bisa berupa merek yang kuat, paten, atau posisi geografis. Memakai prinsip ini, Buffett membeli McDonalds, Coca Cola, dan P&G.
- See more at: http://lipsus.kontan.co.id/v2/warren_buffett/read/60/Lima-cara-berinvestasi-seperti-Warren-Buffett#sthash.4PdDKltJ.dpuf
1. Membeli saham sama dengan membeli bisnis
Jika sebuah bisnis berkinerja bagus, harga sahamnya akan mengikuti.;
Bagaimana mengetahui bisnis yang bagus? Pertama-tama, Anda harus mengerjakan PR, yaitu riset fundamental perusahaan tersebut. Sebab, bagi Buffett, syarat mutlak berinvestasi adalah mengerti bisnisnya dulu. Ia berulang kali menolak berinvestasi di berbagai saham teknologi murah karena mengaku tak kenal bisnisnya. “Risiko datang ketika Anda tidak tahu apa yang Anda lakukan,” tuturnya.
Karena itu, Buffett juga menyarankan untuk memastikan kekuatan manajemen perusahaan itu. Menurut buku ‘The Warren Buffett Way', ia punya tiga pertanyaan menyangkut manajemen sebuah perusahaan. Apakah mereka rasional? Apakah mereka mengakui kesalahan? Apakah mereka bisa menahan tuntutan institusi? Buffett tak suka manajemen yang hanya mengikuti arus dan mengkopi kompetitor.


2. Beli perusahaan yang menguntungkan
Buffett lebih suka berinvestasi pada perusahaan yang membukukan keuntungan dengan konsisten. Artinya, dalam jangka panjang misalnya 10 tahun, perusahaan itu konsisten meraup keuntungan.
Ia pun mengukur tingkat keuntungan perusahaan misalnya dengan melihat return on equity (ROE), return on invested capital (ROIC), dan margin laba perusahaan, lalu membandingkannya dengan perusahaan kompetitor atau industri.
Tapi hati-hati, kadang perusahaan dengan ROE tinggi memiliki utang yang besar pula. Buffett sangat menghindari perusahaan macam ini. Ia pernah bilang, “Jika Anda berada di kapal yang bocor kronis, energi untuk mengganti kapal bakal lebih produktif ketimbang energi untuk menambal kebocoran.”
Catatan:
ROE = laba bersih/ekuitas
Margin laba = laba bersih/penjualan bersih
ROIC = (laba bersih-dividen)/total modal


3. Beli saham bagus di harga murah
Harga adalah apa yang Anda bayarkan, nilai adalah apa yang Anda dapatkan.
Jadi, belilah selalu saham yang harganya lebih murah daripada nilai sebenarnya. Ini prinsip utama Buffett yang ia pelajari dari guru favoritnya, Benjamin Graham. Caranya adalah cermat memperhatikan fluktuasi pasar dan memanfaatkannya. Ketika pasar serakah, Buffett cenderung menahan diri. Tapi sebaliknya, begitu pasar takut, ia mulai menebar jala berburu saham bagus tapi murah. Strategi kontrarian ini mudah diucapkan tapi pada kenyataannya sulit diterapkan. Sebab, lazim terjadi emosi dan kepanikan akan menyergap investor di tengah situasi buruk.


4.Berinvestasi jangka panjang
"Belilah hanya sesuatu yang Anda akan benar-benar senang memegangnya jika pasar tutup selama 10 tahun.
Ketika membeli sebuah saham, Buffett berpatokan akan menyimpannya dalam jangka panjang bahkan seumur hidupnya. Ia menyimpan sejumlah saham yang tak pernah ia jual sampai sekarang seperti Coca-Cola, GEICO, dan Washington Post.

5. Economic moat
Buffett menemukan istilah baru ini, yang secara harafiah berarti parit perlindungan ekonomi. Tapi yang dimaksud Buffett adalah perusahaan yang punya keunggulan kompetitif.  Perusahaan bertipe economic moat dapat melindungi bisnisnya dari kompetitor karena ia punya kelebihan tersendiri.
Kelebihan ini bisa berupa merek yang kuat, paten, atau posisi geografis. Memakai prinsip ini, Buffett membeli McDonalds, Coca Cola, dan P&G.
- See more at: http://lipsus.kontan.co.id/v2/warren_buffett/read/60/Lima-cara-berinvestasi-seperti-Warren-Buffett#sthash.4PdDKltJ.dpuf
1. Membeli saham sama dengan membeli bisnis
Jika sebuah bisnis berkinerja bagus, harga sahamnya akan mengikuti.;
Bagaimana mengetahui bisnis yang bagus? Pertama-tama, Anda harus mengerjakan PR, yaitu riset fundamental perusahaan tersebut. Sebab, bagi Buffett, syarat mutlak berinvestasi adalah mengerti bisnisnya dulu. Ia berulang kali menolak berinvestasi di berbagai saham teknologi murah karena mengaku tak kenal bisnisnya. “Risiko datang ketika Anda tidak tahu apa yang Anda lakukan,” tuturnya.
Karena itu, Buffett juga menyarankan untuk memastikan kekuatan manajemen perusahaan itu. Menurut buku ‘The Warren Buffett Way', ia punya tiga pertanyaan menyangkut manajemen sebuah perusahaan. Apakah mereka rasional? Apakah mereka mengakui kesalahan? Apakah mereka bisa menahan tuntutan institusi? Buffett tak suka manajemen yang hanya mengikuti arus dan mengkopi kompetitor.


2. Beli perusahaan yang menguntungkan
Buffett lebih suka berinvestasi pada perusahaan yang membukukan keuntungan dengan konsisten. Artinya, dalam jangka panjang misalnya 10 tahun, perusahaan itu konsisten meraup keuntungan.
Ia pun mengukur tingkat keuntungan perusahaan misalnya dengan melihat return on equity (ROE), return on invested capital (ROIC), dan margin laba perusahaan, lalu membandingkannya dengan perusahaan kompetitor atau industri.
Tapi hati-hati, kadang perusahaan dengan ROE tinggi memiliki utang yang besar pula. Buffett sangat menghindari perusahaan macam ini. Ia pernah bilang, “Jika Anda berada di kapal yang bocor kronis, energi untuk mengganti kapal bakal lebih produktif ketimbang energi untuk menambal kebocoran.”
Catatan:
ROE = laba bersih/ekuitas
Margin laba = laba bersih/penjualan bersih
ROIC = (laba bersih-dividen)/total modal


3. Beli saham bagus di harga murah
Harga adalah apa yang Anda bayarkan, nilai adalah apa yang Anda dapatkan.
Jadi, belilah selalu saham yang harganya lebih murah daripada nilai sebenarnya. Ini prinsip utama Buffett yang ia pelajari dari guru favoritnya, Benjamin Graham. Caranya adalah cermat memperhatikan fluktuasi pasar dan memanfaatkannya. Ketika pasar serakah, Buffett cenderung menahan diri. Tapi sebaliknya, begitu pasar takut, ia mulai menebar jala berburu saham bagus tapi murah. Strategi kontrarian ini mudah diucapkan tapi pada kenyataannya sulit diterapkan. Sebab, lazim terjadi emosi dan kepanikan akan menyergap investor di tengah situasi buruk.


4.Berinvestasi jangka panjang
"Belilah hanya sesuatu yang Anda akan benar-benar senang memegangnya jika pasar tutup selama 10 tahun.
Ketika membeli sebuah saham, Buffett berpatokan akan menyimpannya dalam jangka panjang bahkan seumur hidupnya. Ia menyimpan sejumlah saham yang tak pernah ia jual sampai sekarang seperti Coca-Cola, GEICO, dan Washington Post.

5. Economic moat
Buffett menemukan istilah baru ini, yang secara harafiah berarti parit perlindungan ekonomi. Tapi yang dimaksud Buffett adalah perusahaan yang punya keunggulan kompetitif.  Perusahaan bertipe economic moat dapat melindungi bisnisnya dari kompetitor karena ia punya kelebihan tersendiri.
Kelebihan ini bisa berupa merek yang kuat, paten, atau posisi geografis. Memakai prinsip ini, Buffett membeli McDonalds, Coca Cola, dan P&G.
- See more at: http://lipsus.kontan.co.id/v2/warren_buffett/read/60/Lima-cara-berinvestasi-seperti-Warren-Buffett#sthash.4PdDKltJ.dpuf
1. Membeli saham sama dengan membeli bisnis
Jika sebuah bisnis berkinerja bagus, harga sahamnya akan mengikuti.;
Bagaimana mengetahui bisnis yang bagus? Pertama-tama, Anda harus mengerjakan PR, yaitu riset fundamental perusahaan tersebut. Sebab, bagi Buffett, syarat mutlak berinvestasi adalah mengerti bisnisnya dulu. Ia berulang kali menolak berinvestasi di berbagai saham teknologi murah karena mengaku tak kenal bisnisnya. “Risiko datang ketika Anda tidak tahu apa yang Anda lakukan,” tuturnya.
Karena itu, Buffett juga menyarankan untuk memastikan kekuatan manajemen perusahaan itu. Menurut buku ‘The Warren Buffett Way', ia punya tiga pertanyaan menyangkut manajemen sebuah perusahaan. Apakah mereka rasional? Apakah mereka mengakui kesalahan? Apakah mereka bisa menahan tuntutan institusi? Buffett tak suka manajemen yang hanya mengikuti arus dan mengkopi kompetitor.


2. Beli perusahaan yang menguntungkan
Buffett lebih suka berinvestasi pada perusahaan yang membukukan keuntungan dengan konsisten. Artinya, dalam jangka panjang misalnya 10 tahun, perusahaan itu konsisten meraup keuntungan.
Ia pun mengukur tingkat keuntungan perusahaan misalnya dengan melihat return on equity (ROE), return on invested capital (ROIC), dan margin laba perusahaan, lalu membandingkannya dengan perusahaan kompetitor atau industri.
Tapi hati-hati, kadang perusahaan dengan ROE tinggi memiliki utang yang besar pula. Buffett sangat menghindari perusahaan macam ini. Ia pernah bilang, “Jika Anda berada di kapal yang bocor kronis, energi untuk mengganti kapal bakal lebih produktif ketimbang energi untuk menambal kebocoran.”
Catatan:
ROE = laba bersih/ekuitas
Margin laba = laba bersih/penjualan bersih
ROIC = (laba bersih-dividen)/total modal


3. Beli saham bagus di harga murah
Harga adalah apa yang Anda bayarkan, nilai adalah apa yang Anda dapatkan.
Jadi, belilah selalu saham yang harganya lebih murah daripada nilai sebenarnya. Ini prinsip utama Buffett yang ia pelajari dari guru favoritnya, Benjamin Graham. Caranya adalah cermat memperhatikan fluktuasi pasar dan memanfaatkannya. Ketika pasar serakah, Buffett cenderung menahan diri. Tapi sebaliknya, begitu pasar takut, ia mulai menebar jala berburu saham bagus tapi murah. Strategi kontrarian ini mudah diucapkan tapi pada kenyataannya sulit diterapkan. Sebab, lazim terjadi emosi dan kepanikan akan menyergap investor di tengah situasi buruk.


4.Berinvestasi jangka panjang
"Belilah hanya sesuatu yang Anda akan benar-benar senang memegangnya jika pasar tutup selama 10 tahun.
Ketika membeli sebuah saham, Buffett berpatokan akan menyimpannya dalam jangka panjang bahkan seumur hidupnya. Ia menyimpan sejumlah saham yang tak pernah ia jual sampai sekarang seperti Coca-Cola, GEICO, dan Washington Post.

5. Economic moat
Buffett menemukan istilah baru ini, yang secara harafiah berarti parit perlindungan ekonomi. Tapi yang dimaksud Buffett adalah perusahaan yang punya keunggulan kompetitif.  Perusahaan bertipe economic moat dapat melindungi bisnisnya dari kompetitor karena ia punya kelebihan tersendiri.
Kelebihan ini bisa berupa merek yang kuat, paten, atau posisi geografis. Memakai prinsip ini, Buffett membeli McDonalds, Coca Cola, dan P&G.
- See more at: http://lipsus.kontan.co.id/v2/warren_buffett/read/60/Lima-cara-berinvestasi-seperti-Warren-Buffett#sthash.4PdDKltJ.dpuf
1. Membeli saham sama dengan membeli bisnis
Jika sebuah bisnis berkinerja bagus, harga sahamnya akan mengikuti.;
Bagaimana mengetahui bisnis yang bagus? Pertama-tama, Anda harus mengerjakan PR, yaitu riset fundamental perusahaan tersebut. Sebab, bagi Buffett, syarat mutlak berinvestasi adalah mengerti bisnisnya dulu. Ia berulang kali menolak berinvestasi di berbagai saham teknologi murah karena mengaku tak kenal bisnisnya. “Risiko datang ketika Anda tidak tahu apa yang Anda lakukan,” tuturnya.
Karena itu, Buffett juga menyarankan untuk memastikan kekuatan manajemen perusahaan itu. Menurut buku ‘The Warren Buffett Way', ia punya tiga pertanyaan menyangkut manajemen sebuah perusahaan. Apakah mereka rasional? Apakah mereka mengakui kesalahan? Apakah mereka bisa menahan tuntutan institusi? Buffett tak suka manajemen yang hanya mengikuti arus dan mengkopi kompetitor.


2. Beli perusahaan yang menguntungkan
Buffett lebih suka berinvestasi pada perusahaan yang membukukan keuntungan dengan konsisten. Artinya, dalam jangka panjang misalnya 10 tahun, perusahaan itu konsisten meraup keuntungan.
Ia pun mengukur tingkat keuntungan perusahaan misalnya dengan melihat return on equity (ROE), return on invested capital (ROIC), dan margin laba perusahaan, lalu membandingkannya dengan perusahaan kompetitor atau industri.
Tapi hati-hati, kadang perusahaan dengan ROE tinggi memiliki utang yang besar pula. Buffett sangat menghindari perusahaan macam ini. Ia pernah bilang, “Jika Anda berada di kapal yang bocor kronis, energi untuk mengganti kapal bakal lebih produktif ketimbang energi untuk menambal kebocoran.”
Catatan:
ROE = laba bersih/ekuitas
Margin laba = laba bersih/penjualan bersih
ROIC = (laba bersih-dividen)/total modal


3. Beli saham bagus di harga murah
Harga adalah apa yang Anda bayarkan, nilai adalah apa yang Anda dapatkan.
Jadi, belilah selalu saham yang harganya lebih murah daripada nilai sebenarnya. Ini prinsip utama Buffett yang ia pelajari dari guru favoritnya, Benjamin Graham. Caranya adalah cermat memperhatikan fluktuasi pasar dan memanfaatkannya. Ketika pasar serakah, Buffett cenderung menahan diri. Tapi sebaliknya, begitu pasar takut, ia mulai menebar jala berburu saham bagus tapi murah. Strategi kontrarian ini mudah diucapkan tapi pada kenyataannya sulit diterapkan. Sebab, lazim terjadi emosi dan kepanikan akan menyergap investor di tengah situasi buruk.


4.Berinvestasi jangka panjang
"Belilah hanya sesuatu yang Anda akan benar-benar senang memegangnya jika pasar tutup selama 10 tahun.
Ketika membeli sebuah saham, Buffett berpatokan akan menyimpannya dalam jangka panjang bahkan seumur hidupnya. Ia menyimpan sejumlah saham yang tak pernah ia jual sampai sekarang seperti Coca-Cola, GEICO, dan Washington Post.

5. Economic moat
Buffett menemukan istilah baru ini, yang secara harafiah berarti parit perlindungan ekonomi. Tapi yang dimaksud Buffett adalah perusahaan yang punya keunggulan kompetitif.  Perusahaan bertipe economic moat dapat melindungi bisnisnya dari kompetitor karena ia punya kelebihan tersendiri.
Kelebihan ini bisa berupa merek yang kuat, paten, atau posisi geografis. Memakai prinsip ini, Buffett membeli McDonalds, Coca Cola, dan P&G.
- See more at: http://lipsus.kontan.co.id/v2/warren_buffett/read/60/Lima-cara-berinvestasi-seperti-Warren-Buffett#sthash.4PdDKltJ.dpuf

Warren Buffet

JAKARTA, KOMPAS.com - Warren Edward Buffett dikenal sebagai salah satu orang terkaya di dunia melalui kecerdikannya berinvestasi. Apa saja yang dilakukannya untuk menggandakan kekayaan tersebut?
Pengajar investasi dan Ketua Departemen Keuangan di Prasetya Mulia Business School Lukas Setia Atmaja menjelaskan, Warren Buffett bisa dijadikan contoh khususnya bagi masyarakat yang ingin berinvestasi. "Dia selalu bisa menggandakan uangnya dengan cara membeli saham yang bagus, tapi murah. Lalu saham tersebut dibiarkannya bertahun-tahun," ungkap Lukas saat peluncuran buku "Just Duitto" di acara Indonesia Financial Expo and Forum di Jakarta Convention Center, Minggu (7/10/2012).
Menurut Lukas, masyarakat yang ingin berinvestasi di pasar saham juga harus memperhatikan kriteria-kriterianya. Ada lima kriteria sebelum seseorang bisa memutuskan untuk membeli saham yang bagus tersebut.
Pertama, perusahaan tersebut memiliki manajemen yang bagus baik dalam bisnis maupun kinerjanya. Kedua, sektor bisnis dari perusahaan tersebut cukup cemerlang misalnya sektor batubara, kelapa sawit dan sebagainya. Ketiga, perusahaan tersebut mampu untung besar. Keempat, perusahaan tersebut terus tumbuh, setiap tahun ekspansi bisnis. Kelima, valuasi harga sahamnya wajar.
"Jika perusahaan tersebut memiliki lima kriteria itu, maka segera beli sahamnya. Asal harganya wajar," katanya.
Selain itu, Lukas juga mengutip delapan prinsip investasi ala Warren Buffett. Melalui prinsip tersebut, masyarakat bisa mengetahui cara orang terkaya di dunia itu mengelola uangnya. Berikut delapan prinsip investasi ala Warren Buffett:
1. Investasi segera, jangan spekulasi sebelum memulai investasi, pastikan kita menganalisis produk investasi apa saja yang memberikan imbal hasil (yield) yang baik. Di sini, jangan tergoda dengan yield yang signifikan, misalnya tergoda yield 200 persen per tahun. Namun yang penting adalah uang kita aman, bukannya menyusut.

2. Investasi tidak perlu banyak. Seorang Warren Buffett hanya memiliki portofolio sekitar 30 jenis saham hingga saat ini. Namun dia menjadi salah satu orang terkaya di dunia, bahkan pernah menjadi nomor satu menurut majalah Forbes pada 2010.

3. Bukan beli sahamnya tapi bisnisnya. Meski kita membeli saham pada sebuah perusahaan, bukan berarti kita punya saham di situ saja. Namun itu berarti bahwa kita menjadi salah satu pemilik dari perusahaan yang sahamnya kita beli itu, bahkan meski hanya membeli 1 lot saham (500 lembar saham) saja.

4. Jangan utang untuk beli saham. Jangan membeli saham memakai uang panas. Studi membuktikan bahwa orang yang suka berutang untuk membeli saham, cenderung sebagai spekulan. Sehingga dia akan selalu tergoda untuk menjual saham ketika naik sedikit untuk mendapatkan untung. Padahal investor seperti Warren Buffett merupakan investor jangka panjang. Lebih baik membeli satu lot saham, namun itu secara terus menerus dan bisa dibeli dengan uang sendiri. Khususnya dengan seiring kenaikan pendapatan kita maka investasi untuk membeli saham juga harus ditingkatkan.
Sebagai contoh, investasi di saham akan memberikan yield hingga 30-40 persen dalam kurun 5 tahun terakhir. Padahal investasi di produk lain justru hanya memberikan yield di bawah itu.

5. Alokasikan uang secara efisien. Jika Anda memiliki saham yang kurang berprospek bagus, maka segera jual saham tersebut dan investasikan ke saham lain yang lebih menguntungkan.

6. Berpikirlah independen. Meski Warren Buffett menjadi salah satu orang terkaya dunia, tapi gaya hidupnya justru sederhana. Hingga umurnya mencapai 82 tahun kini, dia tetap tinggal di Omaha, Nebraska, sekitar 1.800 km dari New York. Apa alasannya?
Dia ingin jauh dari prediksi analis, khususnya yang bisa menjatuhkan saham yang dimilikinya. Dia selalu percaya diri terhadap saham yang telah dibeli, meski analis memprediksi saham tersebut akan anjlok. Rumahnya pun juga sederhana di Omaha. Bahkan istrinya sampai tidak betah hidup dengan Buffett (karena dianggap terlalu sederhana, meski dia kaya raya) dan pindah ke San Fransisco. Makanannya pun cuma sekadar junk food dan minuman Cola-cola. Kebetulan dia memfavoritkan saham Cola-cola yang juga dibelinya sehingga dia setiap hari minum minuman bersoda itu.

7. Terbuka. Warren Buffett memiliki pikiran terbuka khususnya dalam menerima pandangan orang lain. Namun ini bukan terkait prediksi saham yang telah dibelinya. Pandangan terbuka ini dilakukan saat Warren Buffet tidak mau membeli saham-saham perusahaan IT (information technology). Baginya, saham itu tidak menguntungkan. Dia juga pernah menolak untuk membeli saham Facebook karena ternyata sampai sekarang sahamnya juga terus terpuruk. Dia juga tidak mau membeli perusahaan dotcom seperti Google, Yahoo dan sebagainya. Meski saham tersebut naik turun, portofolio investasinya selamat karena tidak ada satu sahampun dari jenis perusahaan IT.
Saat krisis lalu, saham dotcom ini anjlok signifikan. Namun ternyata, Buffett pun mempertimbangkan untuk membeli saham IBM (perusahaan komputer di Amerika Serikat). Padahal dia dulu benci sekali dengan saham perusahaan IT.

8. Berbagi. Ini yang paling sulit ditiru. Buffett dianggap sebagai salah satu orang terkaya. Namun dia juga terus mendermakan kekayaannya ke pihak lain. Contohnya dia baru saja mendermakan 31 miliar dollar AS ke yayasan milik Bill Gates. Anaknya justru hanya diberikan satu portofolio saham yang dimilikinya. Anehnya, jumlah kekayaan yang dibagikan ke orang lain itu melebihi jumlah kekayaan yang dibagikan ke anak cucunya.

"Lantas apa guna dia mengumpulkan banyak saham, kaya raya lalu memberikannya ke orang lain yang membutuhkan? Ya itu memang hobinya. Baginya, uang bukan segala-galanya. Intinya jangan serakah dalam berinvestasi. Jadilah investor jangka panjang dan nikmatilah imbal hasil saham itu secukupnya. Sisanya berikan ke orang lain yang membutuhkan," kata Lukas.
Prinsip-prinsip ala Warren Buffett tersebut bisa diketahui secara mendalam dalam buku "Just Duitto" yang ditulis oleh Lukas Setia Atmaja dan kartunis Thomdean. Buku tersebut diterbitkan oleh Kontan Publishing (Kelompok Kompas Gramedia) yang mengupas investasi secara gampang dan ringan dalam bentuk kartun.
"Ini menjadi buku alternatif, khususnya bagi masyarakat yang ingin berinvestasi namun malas membaca buku investasi yang cenderung berat," katanya.

1. Membeli saham sama dengan membeli bisnis
Jika sebuah bisnis berkinerja bagus, harga sahamnya akan mengikuti.;
Bagaimana mengetahui bisnis yang bagus? Pertama-tama, Anda harus mengerjakan PR, yaitu riset fundamental perusahaan tersebut. Sebab, bagi Buffett, syarat mutlak berinvestasi adalah mengerti bisnisnya dulu. Ia berulang kali menolak berinvestasi di berbagai saham teknologi murah karena mengaku tak kenal bisnisnya. “Risiko datang ketika Anda tidak tahu apa yang Anda lakukan,” tuturnya.
Karena itu, Buffett juga menyarankan untuk memastikan kekuatan manajemen perusahaan itu. Menurut buku ‘The Warren Buffett Way', ia punya tiga pertanyaan menyangkut manajemen sebuah perusahaan. Apakah mereka rasional? Apakah mereka mengakui kesalahan? Apakah mereka bisa menahan tuntutan institusi? Buffett tak suka manajemen yang hanya mengikuti arus dan mengkopi kompetitor.


2. Beli perusahaan yang menguntungkan
Buffett lebih suka berinvestasi pada perusahaan yang membukukan keuntungan dengan konsisten. Artinya, dalam jangka panjang misalnya 10 tahun, perusahaan itu konsisten meraup keuntungan.
Ia pun mengukur tingkat keuntungan perusahaan misalnya dengan melihat return on equity (ROE), return on invested capital (ROIC), dan margin laba perusahaan, lalu membandingkannya dengan perusahaan kompetitor atau industri.
Tapi hati-hati, kadang perusahaan dengan ROE tinggi memiliki utang yang besar pula. Buffett sangat menghindari perusahaan macam ini. Ia pernah bilang, “Jika Anda berada di kapal yang bocor kronis, energi untuk mengganti kapal bakal lebih produktif ketimbang energi untuk menambal kebocoran.”
Catatan:
ROE = laba bersih/ekuitas
Margin laba = laba bersih/penjualan bersih
ROIC = (laba bersih-dividen)/total modal


3. Beli saham bagus di harga murah
Harga adalah apa yang Anda bayarkan, nilai adalah apa yang Anda dapatkan.
Jadi, belilah selalu saham yang harganya lebih murah daripada nilai sebenarnya. Ini prinsip utama Buffett yang ia pelajari dari guru favoritnya, Benjamin Graham. Caranya adalah cermat memperhatikan fluktuasi pasar dan memanfaatkannya. Ketika pasar serakah, Buffett cenderung menahan diri. Tapi sebaliknya, begitu pasar takut, ia mulai menebar jala berburu saham bagus tapi murah. Strategi kontrarian ini mudah diucapkan tapi pada kenyataannya sulit diterapkan. Sebab, lazim terjadi emosi dan kepanikan akan menyergap investor di tengah situasi buruk.


4.Berinvestasi jangka panjang
"Belilah hanya sesuatu yang Anda akan benar-benar senang memegangnya jika pasar tutup selama 10 tahun.
Ketika membeli sebuah saham, Buffett berpatokan akan menyimpannya dalam jangka panjang bahkan seumur hidupnya. Ia menyimpan sejumlah saham yang tak pernah ia jual sampai sekarang seperti Coca-Cola, GEICO, dan Washington Post.

5. Economic moat
Buffett menemukan istilah baru ini, yang secara harafiah berarti parit perlindungan ekonomi. Tapi yang dimaksud Buffett adalah perusahaan yang punya keunggulan kompetitif.  Perusahaan bertipe economic moat dapat melindungi bisnisnya dari kompetitor karena ia punya kelebihan tersendiri.
Kelebihan ini bisa berupa merek yang kuat, paten, atau posisi geografis. Memakai prinsip ini, Buffett membeli McDonalds, Coca Cola, dan P&G.
- See more at: http://lipsus.kontan.co.id/v2/warren_buffett/read/60/Lima-cara-berinvestasi-seperti-Warren-Buffett#sthash.4PdDKltJ.dpuf


1. Membeli saham sama dengan membeli bisnis
Jika sebuah bisnis berkinerja bagus, harga sahamnya akan mengikuti.;
Bagaimana mengetahui bisnis yang bagus? Pertama-tama, Anda harus mengerjakan PR, yaitu riset fundamental perusahaan tersebut. Sebab, bagi Buffett, syarat mutlak berinvestasi adalah mengerti bisnisnya dulu. Ia berulang kali menolak berinvestasi di berbagai saham teknologi murah karena mengaku tak kenal bisnisnya. “Risiko datang ketika Anda tidak tahu apa yang Anda lakukan,” tuturnya.
Karena itu, Buffett juga menyarankan untuk memastikan kekuatan manajemen perusahaan itu. Menurut buku ‘The Warren Buffett Way', ia punya tiga pertanyaan menyangkut manajemen sebuah perusahaan. Apakah mereka rasional? Apakah mereka mengakui kesalahan? Apakah mereka bisa menahan tuntutan institusi? Buffett tak suka manajemen yang hanya mengikuti arus dan mengkopi kompetitor.


2. Beli perusahaan yang menguntungkan
Buffett lebih suka berinvestasi pada perusahaan yang membukukan keuntungan dengan konsisten. Artinya, dalam jangka panjang misalnya 10 tahun, perusahaan itu konsisten meraup keuntungan.
Ia pun mengukur tingkat keuntungan perusahaan misalnya dengan melihat return on equity (ROE), return on invested capital (ROIC), dan margin laba perusahaan, lalu membandingkannya dengan perusahaan kompetitor atau industri.
Tapi hati-hati, kadang perusahaan dengan ROE tinggi memiliki utang yang besar pula. Buffett sangat menghindari perusahaan macam ini. Ia pernah bilang, “Jika Anda berada di kapal yang bocor kronis, energi untuk mengganti kapal bakal lebih produktif ketimbang energi untuk menambal kebocoran.”
Catatan:
ROE = laba bersih/ekuitas
Margin laba = laba bersih/penjualan bersih
ROIC = (laba bersih-dividen)/total modal


3. Beli saham bagus di harga murah
Harga adalah apa yang Anda bayarkan, nilai adalah apa yang Anda dapatkan.
Jadi, belilah selalu saham yang harganya lebih murah daripada nilai sebenarnya. Ini prinsip utama Buffett yang ia pelajari dari guru favoritnya, Benjamin Graham. Caranya adalah cermat memperhatikan fluktuasi pasar dan memanfaatkannya. Ketika pasar serakah, Buffett cenderung menahan diri. Tapi sebaliknya, begitu pasar takut, ia mulai menebar jala berburu saham bagus tapi murah. Strategi kontrarian ini mudah diucapkan tapi pada kenyataannya sulit diterapkan. Sebab, lazim terjadi emosi dan kepanikan akan menyergap investor di tengah situasi buruk.


4.Berinvestasi jangka panjang
"Belilah hanya sesuatu yang Anda akan benar-benar senang memegangnya jika pasar tutup selama 10 tahun.
Ketika membeli sebuah saham, Buffett berpatokan akan menyimpannya dalam jangka panjang bahkan seumur hidupnya. Ia menyimpan sejumlah saham yang tak pernah ia jual sampai sekarang seperti Coca-Cola, GEICO, dan Washington Post.

5. Economic moat
Buffett menemukan istilah baru ini, yang secara harafiah berarti parit perlindungan ekonomi. Tapi yang dimaksud Buffett adalah perusahaan yang punya keunggulan kompetitif.  Perusahaan bertipe economic moat dapat melindungi bisnisnya dari kompetitor karena ia punya kelebihan tersendiri.
Kelebihan ini bisa berupa merek yang kuat, paten, atau posisi geografis. Memakai prinsip ini, Buffett membeli McDonalds, Coca Cola, dan P&G.
- See more at: http://lipsus.kontan.co.id/v2/warren_buffett/read/60/Lima-cara-berinvestasi-seperti-Warren-Buffett#sthash.4PdDKltJ.dpuf

Saham

Kisah Sukses Lo Kheng Hong - Warren Buffett Indonesia

Lo Kheng Hong, Menjadi Kaya Sambil Tidur
Sembari ongkang-ongkang kaki, lenggang kangkung, dan tidur pulas, Lo
Kheng Hong bisa menjadi miliarder di pasar saham dan mengeduk gain
hingga 150.000%. Itukah buah filosofi ‘menjadi kaya sambil tidur’?

Asetnya di pasar saham disebut-sebut bernilai triliunan rupiah. Ia
mengoleksi sejumlah saham yang mampu mencetak keuntungan investasi
(capital gain) hingga ratusan, ribuan, bahkan ratusan ribu persen.
Tapi, jangan bayangkan pria berusia 52 tahun ini punya karakter dan
penampilan glamour, agresif, dinamis, meledak- ledak, atau
beradrenalin tinggi.

Lo Kheng Hong adalah pribadi yang bersahaja, sabar, rendah hati,
kalem, bahkan terkesan dingin. Boleh jadi, pembawaannya inilah yang
menjadikan Kheng Hong sukses sebagai investor di pasar saham.

Yang pasti, Kheng Hong tak hanya lihai memilih saham-saham yang mampu
menghasilkan gain besar. Ia juga mahir memosisikan diri di lantai
bursa, baik saat pasar bearish maupun bullish. Tapi Kheng Hong bukan
tipe investor yang sepanjang hari memelototi pergerakan harga saham
atau setiap saat mencermati perkembangan isu, rumor, dan berita di
lantai bursa, dengan kewaspadaan ekstra tinggi. Ia juga tidak
melengkapi diri dengan handphone canggih, laptop terkini, notebook,
iPad, atau perangkat paling mutakhir sejenisnya.

Kheng Hong memang lebih memosisikan diri sebagai investor jangka
panjang ketimbang investor jangka pendek atau trader. Mungkin, itulah
sebabnya, kalangan praktisi pasar saham menjulukinya sebagai ‘Warren
Buffett Indonesia’.

“Investor di pasar saham kebanyakan ikut-ikutan dan tidak mengerti
saham apa yang dibeli. Kebanyakan orang panik karena mereka tidak tahu
apa yang mereka beli. Semakin cepat panik seorang investor, semakin
menunjukkan bahwa ia tidak tahu apa-apa,” kata Lo Kheng Hong kepada
wartawan Investor Daily Nurfiyasari dan Abdul Aziz serta pewarta foto
Eko S Hilman di Jakarta, baru-baru ini.

Bagi ayah dua anak ini, lebih menguntungkan menjadi investor jangka
panjang dibanding menjadi trader. “Kalau trading, dapatnya receh dan
bisa bikin stres. Kalau pegang saham dalam jangka panjang, dapat
uangnya besar,” ujar Kheng Hong.

Kematangan, kecerdasan, ketenangan, dan kesabaran telah menjadikan Lo
Kheng Hong sebagai pemain saham sejati. Berkat itu pula ia berhasil
lolos dari krisis moneter 1997- 1998, bahkan kemudian menangguk
keuntungan hingga 150.000%. ”Waktu krisis 2008, saya sempat jatuh.
Malah sewaktu krisis 1997-1998, saya sempat jatuh hingga uang saya
tinggal 15%. Tapi uang itu saya tukar ke saham. Akhirnya uang saya
meningkat 150.000% sampai saat ini,” tuturnya.

Yang unik, aset kekayaan Lo Kheng Hong hampir seluruhnya dalam bentuk
saham sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Ia sama sekali
tidak tergoda untuk mendiversifikasi investasinya ke instrumen lain,
seperti emas, properti, atau kendaraan Bahkan, mantan kepala cabang
Bank Ekonomi ini sama sekali tak tertarik untuk mendirikan perusahaan,
termasuk perusahaan sekuritas.

“Saya hanya punya 15% dana cash untuk jaga-jaga supaya kalau terjadi
krisis saya masih punya uang untukmembeli saham. Saya tidak bekerja,
tidak punya perusahaan, tidak punya pelanggan seorang pun, tidak punya
karyawan seorang pun, dan tak punya bos. Hanya punya seorang sopir dan
dua pembantu,” papar Lo Kheng Hong yang sudah 22 tahun bermain saham.

Apa saja tips Lo Kheng Hong hingga ia mampu mengeduk keuntungan besar
dari pasar saham? Bagaimana harus bersikap saat pasar mengalami
bullish, bearish, atau crash? Berikut petikan lengkap wawancara dengan
pria yang mengaku berasal dari keluarga tak mampu dan kelak berniat
menyumbangkan kekayaannya kepada fakir miskin tersebut.

Kenapa Anda tertarik bermain saham?
Saya tertarik bermain saham karena saham dapat memberikan keuntungan
yang besar dan tidak capek seperti di sektor riil.

Apa enaknya menjadi investor saham?
Pertama, seorang pemain saham dapat menjadi orang yang terkaya di
dunia, seperti Warren Buffett. Banyak orang yang tidak tahu dan tidak
percaya. Mereka hanya tahu banyak orang yang rugi, orang kaya jadi
miskin karena bermain saham, bahkan ada yang bunuh diri karena saham.

Kedua, seorang pemain saham punya banyak waktu, bebas, dan tidak
dipusingkan oleh urus-mengurus karyawan, pelanggan, dan lain-lain. Di
perusahaan, status investor saham adalah sleeping partner, sehingga
waktu luangnya bisa diisi dengan hal-hal yang disukai.

Ketiga, semua keuntungan perusahaan menjadi milik pemegang saham,
padahal yang bekerja keras adalah direksi, komisaris, manajer, dan
seluruh karyawan, tetapi mereka hanya menerima gaji dan bonus. Mereka
tidak punya hak untuk mendapatkan bagian dari keuntungan perusahaan.
Memiliki perusahaan yang untung besar seperti memiliki mesin pencetak
uang.

Sejak kapan Anda bermain saham?
Saya bermain saham sejak 1989, 22 tahun yang lalu. Saya dilahirkan
dari keluarga yang berpenghasilan rendah. Orangtua hanya pegawai
kecil. Saat tamat SMA, saya belum punya biaya untuk kuliah. Kemudian
saya jadi pegawai tata usaha di bank, waktu itu saya disuruh-suruh
untuk fotokopi dan lainnya. Kemudian saya bisa bekerja sambil kuliah.
Saya pilih kampus yang murah sesuai kemampuan keuangan. Saat bekerja
di bank itulah, saya mulai main saham. Saya sempat menjadi kepala
cabang. Saya kemudian keluar dari bank dan fokus main saham.

Anda saat ini punya saham apa saja?
Saya punya saham sekitar 30 emiten, antara lain di Multibreeder
Adirama Indonesia Tbk (MBAI), dengan kepemilikan 8,29% lebih. Saham
saya banyaknya bukan di LQ45. Kepemilikan saya di saham lain di bawah
5%. Saya tipe investor jangka panjang.

Kalau trading, dapatnya receh, kalau jangka panjang dapat uangnya
besar. Saya pegang saham ini sudah enam tahun. Saya beli tahun 2005
seharga Rp 250 dan harganya sempat menyentuh Rp 31.500. Belum saya
jual, padahal gain-nya sudah 12.600%.

Cara Anda memilih saham?
Saya lihat manajemen. Apakah menerapkan Good Corporate Governance
(GCG) atau tidak. Saya cari dari kompetitornya, biasanya mereka tahu.
Saya cari tahu agar tidak beli kucing dalam karung, karena ini
menyangkut harta saya. Jangan membeli sesuatu yang tidak kita tahu.
Lihat manajemen, apakah pengelolanya jujur atau tidak. Jangan sampai
pengelolanya suka ambil uang perusahaan, sehingga saya sebagai
sleeping partner dirugikan.

Istilahnya, yang menjadi pertimbangan pertama adalah manajemen, kedua
manajemen, ketiga manajemen, baru yang lain. Kemudian lihat sektor
usahanya, bagus atau tidak. Ada sektor yang kurang menarik, misalnya
sepatu, tekstil, dan garmen. Tetapi ada juga yang menarik, seperti
kelapa sawit dan pakan ayam.

Orang banyak makan ayam karena ayam merupakan sumber protein termurah
dan dampak negatifnya terhadap kesehatan lebih rendah dibanding yang
lain. Perhatikan juga apakah emiten bersangkutan mengalami pertumbuhan
atau tidak.

Kriteria pertumbuhan, konkretnya seperti apa?
Ada empat tipe perusahaan. Pertama, perusahaan yang rugi terus, ada
yang kadang untung, dan kadang merugi. Kemudian, perusahaan yang
untung besar terus, tapi stagnan. Ada juga perusahaan yang growing
secara berkala, misalnya dari Rp 2 triliun, Rp 5 triliun, dan
seterusnya. Ini perusahaan yang baik dan yang saya cari. Lihat
kinerjanya lima tahun ke belakang. Lihat masa lalunya.

Bagaimana jika lima tahun pertama tumbuh, tetapi lima tahun berikutnya
ternyata turun?
Biasanya kalau lima tahun ke belakang tumbuh, ke depannya akan
mengalami hal yang sama. Kalau sudah lima tahun berturut-turut
growing, tandanya itu super company.

Setelah melihat fundamental emiten, apa lagi yang Anda perhatikan?
Harga. Saya lihat dari Price to Earning Ratio (PER)-nya. Jangan bilang
saham A karena harganya Rp 250 dibilang murah, dan saham B yang
harganya Rp 70.000 dibilang mahal. Maksudnya, saham yang harganya Rp
70.000 bisa lebih murah dibanding saham yang harganya Rp 250. Kita
lihat kemampuan emitennya dalam membukukan keuntungan.

Berapa PER yang ideal saat membeli suatu saham?
Saya pikir, yang reasonable untuk dibeli yaitu yang PER-nya di bawah
lima kali, itu sangat menarik dan potensial. Tapi biasanya perusahaan
yang sudah baik dan manajemennya bagus, PER-nya sudah di atas 10 kali.

Soal timing, kapan saat yang paling tepat untuk masuk pasar?
Yang paling bagus membeli saham adalah saat sedang krisis seperti di
Yunani, Eropa, dan AS. Ada pepatah lama yang tidak perlu dilupakan,
buy on weakness. Dan, harus be greedy when others are fearful dan
sebaliknya, be fearful when others greedy.

Bukankah itu sulit diterapkan?
Saya banyak baca buku tentang Warren Buffett. Saya belajar dari orang
yang sudah terbukti berhasil investasi di pasar saham. Dia sudah
membuktikannya, bahkan menjadi salah satu orang terkaya di dunia.
Nggak mungkin kan kalau saya belajar dari Bernard Madoff? Ha, ha, ha,
ha...

Ternyata orang seperti Madoff, mantan bos bursa Nasdaq tapi tidak bisa
mengelola uang nasabah. Ini menunjukkan bahwa dia hanya tahu semua
peraturan di bursa saham, tetapi tidak mengetahui bagaimana cara
menjadi kaya di pasar saham.

Berarti, kuncinya ada di mental?
Mental bisa bagus saat kita tahu apa yang kita beli. Kebanyakan orang
panic karena mereka tidak tahu apa yang mereka beli. Ini pelajaran
penting. Saya berikan ilustrasi. Waktu itu saya ke Harvard University,
saya tanya biaya kuliah di sana berapa? Ternyata bisa sampai US$
40.000, keluar dari sana semua jadi orang pintar. Dengan belajar
seharga US$ 40.000, kita bisa menjadi orang pintar.

Tapi di pasar saham, kita sudah habiskan puluhan miliar rupiah belum
tentu jadi pintar, malah bisa tambah bingung, seperti Madoff yang
sudah menghabiskan uang masyarakat sebesar US$ 60 miliar, apakah dia
menjadi pintar? Bisa saja di penjara dia berpikir, kenapa saham yang
dibeli turun dan yang dijual justru naik.

Jadi, intinya pintar saja tidak cukup. Untuk menjadi investor yang
kuat, kita harus mengetahui perusahaan satu per satu. Semua orang bisa
seperti itu, asalkan mau baca. Bacalah laporan keuangan emiten satu
per satu.

Jadi, Anda tipe investor fundamental?
Saya 100% fundamental karena lihat manajemennya atau pertumbuhan
perusahaan. Kalau teknikal, hanya grafik, semuanya diabaikan. Saya
yakin itu tidak benar. Tapi memang harus selektif. Dari 400-an saham
yang ada di bursa domestik, cukup banyak yang fundamentalnya bagus.
Terkadang, ada yang terjebak.

Anda tidak memantau pergerakan harga saham setiap saat?
Kenapa kita pusing? Karena kita beli saham yang tidak kita ketahui.
Ada yang tidak bisa tidur karena PER sahamnya 100 kali atau 200 kali.
Lalu, kenapa kita tidak bisa tidur kalau PER-nya hanya lima kali?

Bukankah investor sering terbawa arus karena faktor nonfundamental?
Saya lihat investor di pasar modal kebanyakan ikut-ikutan. Saat market
mengalami booming, semua masuk. Saat market buang-buang saham, mereka
ikut-ikutan. Mayoritas hanya ikut-ikutan dan tidak mengerti apa yang
dibeli. Jadi, belajarlah dari orang yang memang sudah berhasil dan
ikuti langkahnya. Jangan percaya saat ada iklan yang bilang dapat
untung besar saat indeks turun. Kalau bisa seperti itu, hebat sekali.
Bahkan, orang sekelas Warren Buffett saja, saat pasar saham AS turun,
dia juga mengalami kerugian.

Anda berinvestasi pada instrument selain saham?
Tidak, hanya saham. Hampir semua uang saya ada di pasar modal. Dana
tunai saya hanya 15%, sisanya portofolio saham. Kenapa saya sisakan
segitu? Itu untuk antisipasi kalau pasar modal kita jatuh, sehingga
saya masih bisa beli saham lagi.

Dari mana Anda membiayai kebutuhan hidup sehari-hari?
Saya bisa hidup dari dividen yang saya terima. Misalnya harga saham
suatu emiten yang saya beli bulan lalu Rp 610, sekarang harganya Rp
2.375, kemudian saya jual. Awalnya saya berniat menahannya untuk
jangka panjang. Tapi kalau untungnya sudah sampai 300% dalam sebulan,
saya lepas. Untuk emiten yang bagus sekali, tetap saya keep untuk
jangka panjang. Kalau emitennya kurang meyakinkan dan naiknya
signifikan, lebih baik saya lepas.

Saat krisis moneter 1997-1998 dan krisis finansial 2008, Anda
mengalami kerugian juga?
Saya sempat mengalaminya juga. Waktu krisis 2008, saya sempat jatuh,
tapi tetap be greedy when others are fearful. Malah sewaktu krisis
1997-1998, saya sempat jatuh hingga uang saya tinggal 15%. Tapi uang
itu saya tukar ke saham, karena saya tahu pasar modal akan naik lagi.
Dan, itu terbukti. Akhirnya uang saya meningkat 150.000%.

Bagaimana Anda menyikapi perkembangan harga saham saat ini, terutama
yang terkait dengan krisis utang di Eropa dan krisis finansial di AS?
Saat IHSG terkoreksi, wajar saja kalau nilai portofolio saya ikut
turun. Tetapi ketika turun, saya sama sekali tidak ikut-ikutan
menjual, bahkan saya membeli dan menambah saham saya, karena saya
yakin satu hari saham-saham saya akan naik kembali, bahkan dapat lebih
tinggi dari sebelumnya.

Apa filosofi hidup Anda?
Filosofi hidup saya adalah bagaimana saya bisa menjadi kaya sambil
tidur. Karena di perusahaan status saya adalah sleeping partner, saya
tidur tetapi saham-saham perusahaan saya bekerja buat saya secara
dahsyat. Getting rich while sleeping. Saya pakai waktu saya delapan
jam untuk tidur, selebihnya saya pakai untuk bersenang-senang dan
mengerjakan apa yang saya sukai.

Selasa, 16 Juli 2013

Bahasa Medan


Aci = Boleh (*mana aci main curang)
Anggar = sok jago (*gak usah anggar kali lah)
Angek = sebenarnya ini berasal dari bahasa padang yang berarti Hangat. Tapi untuk orang medan merujuk pada istilah iri. (*angek kali kau aku menang)
Alif cendong = permainan sejenis petak umpet
Atrek = mundur  (*yoo…atrek, lapang belakang) untuk parkir kendaraan
Babon = besar (*waw…babon juga dia)
Bacul = penakut (*sok kali tadi, taunya bacul)
Baling/Baleng = Rusak, tak sesuai asalnya. (*agak baling yah ban keretamu)
Balek = maksudnya ‘Balik’
Bante = maksudnya ‘bantai’ (*harusnya tadi kita bante aja)
Belacan = Terasi
Bendol= benjol (*bendol-bendol badanku digigit nyamuk)
Bombon = Permen
Berselemak = Berlepotan (*berselemak kali kau ngomong)
Bereng = lirikan mata yang tajam (*diberengnya aku tadi)
Berondok = sembunyi (*berondok dimana kau tadi?)
Bolong = lobang
B1 =Biang /anjing
B2 = Babi
Bedangkik = pelit
Berantam = berkelahi
Buka dasar = penglaris (*5000 aja kak. Buka dasar)
BPK = Babi panggang karo
Bocor alus = gak bisa dipercaya / mulut ember (*jangan cerita sama dia. Bocor alus keliling tuh)
Cakap = Bercakap (*banyak kali cakapmu)
Cari angin = keluar, refreshing (*sebentar yah, mau cari angin dulu aku)
Cak = singkatan dari kata ‘coba’ (*cak ajari aku=coba ajari aku)
Celit = pelit
Celat = orang yang tidak bisa bilang huruf R
Cengkunek = omong kosong (*jangan banyak cengkunek lah)
Cendek = istilah pendek / tidak dalam (*cendeknya airnya)
Cem = singkatan dari ‘macam’ ; cemana = bagaimana ; kek mana = kayak mana
Cincong = omongan (*banyak kali pun cincongnya)
Cincai = gampang di atur (*alah..cincai ajalah itu)
Cop = kata isyarat untuk berhenti atau rehat sebentar dalam permainan (*aku cop bentar, dipanggil bapakku)
Deking = beking / backing
Demon = demontrasi (*macet karena ada demon)
Dongok = Bodoh
Eceknya = pura-pura (*ecek-eceknya aku pacarmu yah)
Enceng = berhenti (*encenglah aku, capek main kartu ini)
Gacuk = jago –ditujukan untuk sebuah benda yang dijagokan dalam permainan-
Gecor = gak bisa menyimpan rahasia
Gelek = sebutan untuk orang yang matanya redup, seperti pemakai narkoba.
Gerepes = geripis / gigi yang tidak bagus dan busuk-busuk
Gerot = singkatan dari ‘geger otak’. Biasa sebutan untuk orang yang tingkahnya aneh.
Getek/ Jongkek = genit (*getek kali abang becak itu)
Golek-golek = bersantai, tidur-tidur ayam.
Gosok / menggosok = setrika/menyetrika (*gosok dulu baju sekolah adikmu)
Guli = kelereng
Hajab = hancur
Honda = sebutan untuk kendaraan roda dua / motor. Walaupun mereknya bukan Honda, tetapi disebut Honda.
Jaga telor = sebutan dalam permainan dimana orang yang jaga (biasanya petak umpet) tidak mencari kawan-kawanya tetapi tetap ditempatnya. Menjaga tempat.
Jangek = ini sebutan untuk makanan yang berasal dari padang, kerupuk jangek.
Jengat = jungkit (*jangan duduk dibelakang sepeda itu, sampe jengat sepedanya)
Kalok = maksudnya ‘Kalau’, mendapat akhiran K
Kali = pemendekan kata ‘sekali’; yang artinya banget, sangat (*cantik  kali kau = kamu cantik deh .)
Kak =  panggilan untuk perempuan yang lebih tua.
Kau = Engkau , kamu . – cara baca KAU, untuk penyebutan U  tidak ka-u, tetapi penyebutan seperti KAW dimana W di ucapkan lemah-
Kede / kedai = warung
Kede sampah = warung yang menjual sayuran, ikan dan barang-barang keperluan sehari-hari, bukan jualan sampah.
Kedan = teman
Kereta = sepeda motor
Kereta Angin = sepeda
Keling banking = sebutan untuk orang yang berkulit hitam
Kelen / kalien = kalian
Kerabu = anting-anting
Kembut = Takut (*kalok sendirian aku dirumah, kembut juga)
Kaki ayam = keluar rumah tanpa mengenakan alas kaki
Kilik = trik mendrible bola (*hebat kali dia, bisa kilik kayak gitu)
Kiri = minggir (*woy…kiri kau = maksudnya *woy…minggir kau)
Kocik = berasal dari bahasa melayu yang berarti ‘kecil’.
Kombur meletup = orang yang banyak cerita
Langgar : Tabrak. Ex. Ibu Mila meninggal dilanggar kereta
Langgar: Musola. Ex. Pak Haji biasa sembayang di langgar. Langgar berbeda dengan Mesjid. Langgar indentiknya lebih kecil dibanding Mesjid.
Lantak: Habis; habisi. Ex. Dilantaknya semua hidangan itu. Ex. Rumah itu dilantak sijago merah
Lasak: Banyak gerak, tidak bisa tenang
Lego: Drible bola. Ex. Jago kali ah nge-lego bolanya
Lembek: Lemah, lemes
Lencong [Tai lencong]: Tahi ayam yang hijau, bentuknya seperti pucuk es krim menjulang
Lengkong: Cincau hitam, buat campuran es sirop
Lepoh: Bodoh (Lepoh kali, gitu aja nggak bisa)
Lepuk: Pukul. Ex. Dilepuk orang sekampung dia
Lereng: Sepeda besar atau sepeda janda
Lewong: 1. Putus. Ex. Layangannya lewong; 2. Hilang, raib. Ex. Lewong uangku disikat dia?
Ligat: Lincah, lihai, cepat. Ex. Ligat kali dia kalo kerja
Limper: Lima perak. Dipakai untuk menyebut uang Rp 5 rupiah. Istilah limper semakin hilang seiring hilangnya pecahan lima rupiah.
Limpul: Lima puluh. Dipakai untuk menyebut uang Rp 50 rupiah
Limrat: Lima ratus. Dipakai untuk menyebut uang Rp 500 rupiah
Litak: Habis, kondisi capek sekali
Loak: Payah, Bodoh. Ex. Loak kali kau pun, gitu aja nggak bisa
Lobok: Kedodoran, kebesaran. Ex. Celananya lobok
Locak: 1. Kalah terus menerus. Ex. Aih mak, locak kawan tu pas main ceki. 2. Batu locak : Sejenis permainan dengan batu pipih dengan  kelereng atau benda bulat kecil lainnya. Si kalah berusaha melempar kelereng atau benda bulatnya ke dalam lubang sasaran, sementara pemain lainnya berusaha menjauhkan benda bulat itu, atau setidaknya melempar melampaui si benda bulat.
Lokal: Ruang kelas. Ex. Si Adi lagi di lokal, belum keluar
Longoh: Bodoh, tolol. Ex. Dasar longoh, udah tau bahaya bukannya menghindar
Lorong: Gang. Ex. Dilorong mana tinggalmu
Main-main; keluar main-main: Istilah untuk jam istirahat sekolah. Ex. Keluar main-mainnya jam berapa ya?
Manipol: Akronim dari mandailing polit. Mandailing pelit/kikir; istilah stereotip suku mandailing, suku di Kab. Tapanuli Selatan. Padahal belum tentu benar.
Mangkok: Cangkir
Masuk Angin: Melempem (Khusus buat makanan, kue, atau kerupuk). Ex. Kerupuknya nggak enak, udah masuk angin.
Mayung: Makanan enak dari bihun
Melalak: Hobinya keluar rumah, ga betah di rumah. Sebuah sifat yang lebih diarahkan kepada perempuan. Konotasinya negatif.
Mengkek: Manja
Mentel: Genit, centil
Mentiko: Belagu, sifat orang yang suka merasa paling hebat dan suka cari masalah
Merajuk: Ngambek
Mereng: Miring, sering juga disebut mencong
Merepet: Marah dengan menggunakan kata-kata
Merling: Bercahaya, mengkilap. Ex. Kalungnya merling kali
Mersi: Mereng sikit, setengah pesong
Minyak Lampu: Minyak tanah
Minyak Makan: Minyak goreng
Monza: Akronim dari Monginsidi Plaza, tempat jualan pakaian bekas; mengacu pada penyebutan semua jenis barang second/bekas.
Motor: Mobil
Nembak: Bukan menembak, atau nembak cewek, tapi istilah untuk makan tapi nggak bayar. Ex. Si Ucok nembak di warung Kak Ipah
Ngeten: Mengintip. Lebih sering dipakai untuk mengintip adegan yang menggiurkan, seperti orang mandi, orang ML, dsb.
Nokoh: Dari kata tokoh, artinya menipu; berdusta. Ex. Dia itu nokoh, jangan percaya. Lihat: Tokoh
Nona: Aktris utama. Ex. Siapa nona dalam film itu?
ODB: Tontonan gratis ala misbar (gerimis bubar); pemutaran  film keliling. Biasanya diadakan tiga bulan sekali di asrama-asrama tentara atau polisi. Aslinya dari bahasa Belanda: O… Deli Bioscoop.
Ompa’an: Sifat orang yang suka dibaik-baikin
Oyong: Terhuyung-huyung, limbung
Pajak: Pasar. Ex: Pajak Horas Siantar
Pakansi: Hari libur, liburan
Pakpok: Pulang pokok, impas. Ex. Siapa yang kalah main judinya? Jwb: Pakpok
Pala: Tidak seberapa. Ex. Ah…nga pala bagusnya mainnya. (Ah…tidak seberapa bagusnya permainannya)
Palar: Dipaksa-paksain
Panas: Sakit demam. Ex. Tidak masuk sekolah dia karna panas.
Pande: Pandai, pintar
Panglong: Toko tempat penjualan material bangunan
Paret: Maksudnya parit, got
Pasar: Jalan raya (Di Sumatera Utara, khususnya di daerah perkebunan, kata pasar bias juga diartikan jalan di kawasan perkebunan sawit atau karet. Ex: Paimin, nanti kau mulai dari pasar satu mendodosnya)
Pasar Itam: Jalan raya yang diaspal
Paten: Hebat atau bagus. Ex: Poltak, kapan kau beli sepatumu itu, paten kali bah
Pauk/Paok: Payah, nggak keren, bodoh (Paok kali pun kau, gitu aja nggak bisa)
Payah: Susah
Pekak: Tuli. Ex. Percuma kau teriak, dia orangnya memang pekak)
Pencorot: 1. Nomor urut paling akhir. 2. Pecundang
Pening: Pusing
Perei: Libur (Slang dari free)
Perli: Menggoda, flirting seseorang utk menjadi pacar. Ex. Jangan kau nganggu ce itu ya, mau ku perli dia.
Pesong: Gila, tidak waras
PHR: Istilah untuk bioskop murahan. Singkatan dari Panggung Hiburan Rakyat
Pinggir: Digunakan untuk meminta supir angkot atau bis untuk berhenti. Lain halnya ditempat lain orang mengatakan “Kiri Bang”
Ponten: Nilai
Porlep: Sebutan untuk kuli angkut barang di Polonia atau Pelabuhan Belawan
Pukimbek: Expresi kesal atau kecewa. Sering disingkat juga jadi Kimbek. Dasar katanya dari pukimak. Arti harafiah nya kurang baik (Katanya alat kemaluan ibu kita). Istilah serupa ada juga di kawasan Timur seperti orang Flores bilang: Cokimai
RBT (Rakyat Banting Tulang): Ojek. Mungkin bukan di Medan, tetapi di P.Siantar dan sekitarnya, khususnya di perkebunan.
Rehat: Istirahat
Rodam: Siksa, dimapram. Ex. Sebelum dilantik jadi anggota Pramuka tetap, kami dirodam dulu semalaman di sungai
Raun-raun: Jalan-jalan berkeliling (dari bahasa inggris: Walking Around – “Raun”)
Rupanya: Ternyata. Ex. Rupanya kau yang ambil buku ku ya.
Recok: Ribut, berisik
Rol: Penggarisan, mistar (Kata benda)
Sarap: Tidak waras, gila
Sebeng: Menyebeng, Menyerempet
Sedeng: Gila, sinting
Seken: Salaman (Dari bhs Inggris: Shake hand)
Selop: Sandal
Selow: Lambat. (Slang dari slow)
Semak: Kumuh, berantakan, kacau. Ex. Semak kali kamarmu, tidak pernah kau bersihkan. Ex. Mandilah dulu kau semak mukamu (wajahmu) ku lihat
Semalam: Kemarin. Mungkin di provinsi lain, tapi penggunaannya di Sumut lebih sering dibanding kemarin
Sengak: Ketus
Senget: Tidak waras, gila
Sepeda Janda: Sepeda berpalang ala jaman dulu, suka dipakai ibu-ibu atau buruh kebun
Setalen: Satuan nilai uang untuk 25 rupiah. Dulu masih sering ditemukan jajanan seharga setalen, tapi sekarang tidak lagi
Setil: Gaya, keren. Ex. Mau kemana kau, kok setil kali bajumu
Setip: Penghapusan (kt. benda), menghapus (kt. kerja)
Siap: Selesai. Ex. Sudah siap mak ku cuci piring itu
Sikit: Plesetan dari sedikit
Silap: Salah, keliru. Ex. Kalo awak tak silap, besok kita latihan koor
Simpang: Perempatan, atau pertigaan jalan
Somboy: Sejenis makanan cina yang populer, dari sejenis buah yang dikeringkan, berwarana merah dan diberi lapisan tepung yang rasanya asin, manis, asam.
Sor: Suka atau tertarik. Ex: Sor kali aku lihat si Delima itu  bah
Sudako: Angkot
Takir: Nasi bungkus/kotak yang biasa dibagikan saat kenduri atau tahlilan; lihat juga kata “berkat”
Tarok: Meletakkan. Ex. Tarok (letakkan) saja buku itu diatas mejaku yaa..
Teh Tong: Air minum
Teh Pait: Air minum dengan bubuh teh
Teh/kopi Telor: Minuman dicampur telor
Tekek: Versi jitak yang lain lagi
Telekung: Mukena
Tenggen: Mabuk alkohol
Tepos: Lawan tonggek
Tepung Roti: Tepung terigu
Teratak: Atap tambahan, biasanya dibangun jika ada kegiatan seperti pesta dsb.
Terei: Coba. (Dari kata Inggris: Try) Ex. Cak diterei dulu lampu itu, apa bisa hidup
Terge: Perhatian, peduli, acuh. Ex. Sudah ku peringatkan kau, tapi tidak kau terge
Tekong; Tekongan: Menikung; tikungan, simpang jalan
Titi: Jembatan. Lebih sering digunakan untuk jembatan yang kecil
Tokoh: Tipu (menipu/membohongi). Ex: Janganlah kalian tokoh-tokohin aku. (Jangalah kalian bohong-bohongi aku)
Tokok; menokok: 1. Memalu, memaku. Ex. Bantu dulu Bapak menokokkan paku ke papan ini. 2. Pukul, jitak. Ex. Ditokok guru itu kepalaku
Tonggek: Bokong yang montok
Tonyor: Pukul
Tukam: Melayat, takziah
Tumbuk: Pukul. Ex. Jangan banyak cincongmu, ku tumbuk kau nanti
Tungkik: Teler, cairan di kuping
Ubi: Singkong
Ubi Rambat: Ubi jalar
Uwak: Panggilan sopan untuk orang yang sudah tua
Wayar: Kabel
Woy: Panggilan, seruan buat teman atau sekelompok orang. Ex. Woy, di mana
kelen?



(